Algoritma
Pemrograman Dengan Menggunakan C++
Sekilas Mengenai Algoritma
Algoritma seperti kata kebanyakan orang, bukanlah sesuatu
yang hanya berhubungan dengan dunia
komputer saja. Algoritma juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Kali ini
saya mau membahas contoh yang mungkin kedengaran tidak “lazim” digunakan untuk
memberi gambaran mengenai algoritma :D.
Beberapa contoh sederhana mengenai algoritma yang dapat
ditemui dalam kehidupan sehari – hari misalnya:
1. Memasak mie instant.
Prosesnya
sbb: memanaskan air, membuka pembungkus mie instant (tentunya), memasukkan mie
ke dalam air, taruh bumbu di piring, angkat mie jika sudah masak, campurkan
dengan bumbu yang sudah ada di piring dengan mie, makan… :D (koq jadi laper?
:D)
2. Menelepon
Prosesnya
sbb: angkat telepon, tekan nomor teleponnya:
· jika diangkat maka mulai berbicara
setelah selesai tutup teleponnya
· jika tidak diangkat, maka tutup
teleponnya
Dan masih banyak lagi contoh – contoh sederhana mengenai
algoritma yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari.
Algoritma Pemrograman
Sekarang kita mulai membicarakan mengenai algoritma
pemrograman. Pertama – tama, akan saya kutip dulu ciri – ciri dari algoritma
seperti yang dipaparkan oleh Donald E. Knuth:
· Algoritma mempunyai awal dan akhir.
· Setiap langkah harus didefinisikan
dengan tepat sehingga tidak memiliki arti ganda (ambigu).
· Memiliki masukan (input) atau kondisi awal.
· Memiliki keluaran (output) atau kondisi akhir.
· Algoritma harus efektif; bila
digunakan benar – benar menyelesaikan persoalan.
Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu setuju dengan hal –
hal seperti itu yang terkesan terlalu membatasi. Karena sebenarnya ada banyak cara
untuk menghasilkan sesuatu tanpa harus mengikuti aturan yang “baku” / satu
aturan saja yang terkesan mengikat, iya kan? Namun jika ada yang mau
“bertindak” seperti yang telah dipaparkan di atas, itu sah – sah saja.
Sekarang, kita akan melihat beberapa program, mulai dari
yang mudah sampai yang cukup sulit, beserta penjelasannya.
Nilai Terbesar Dari 3 Buah Bilangan
Untuk mencari nilai terbesar dari 3 buah bilangan, dalam
C++, kode yang saya gunakan adalah sbb:
#include <iostream>
using namespace std;
void main() {
int a, b, c, d;
cout <<
"nilai 1: ";
cin >> a;
cout <<
"nilai 2: ";
cin >> b;
cout <<
"nilai 3: ";
cin >> d;
c = (a > b ? a
: b);
cout <<
"nilai terbesar adalah : " << (c > d ? c : d) <<
"\n";
}
Logika:
Bandingkan
nilai pertama dengan nilai kedua. Kemudian yang lebih besar di antara nilai
tersebut di bandingkan dengan nilai berikutnya (nilai ke tiga), sehingga di
dapat nilai terbesar di antara ketiga variabel tersebut.
Penjelasan kode:
Seperti
yang kita lihat di atas, pertama – tama, kita membuat tiga variabel yaitu,
variabel a,
b, c, dan d. Kemudian, kita meminta user untuk memasukkan nilai untuk
variabel a, b, dan d. Setelah itu, kita
membandingkan nilai masing – masing variabel. Disini digunakan variabel c
sebagai “alat bantu”. Variabel c sendiri menyimpan nilai terbesar
antara variabel a dan b. Kemudian ditampilkan nilai yang
terbesar yang didapat setelah membandingkan variabel c
dan d.
Jumlah Deret
Yang dimaksud dengan jumlah deret di sini adalah misalnya
saja yang diminta adalah 3 suku deret. Maka dikalkulasikan menjadi:
1
– 1/3 + 1/5 – 1/ 7
Perhatikan
bahwa dalam proses kalkulasi tersebut tanda + dan – berubah setiap kali
dilakukan proses perhitungan. Baiklah, sekarang kita membahas kodenya:
#include <iostream>
using namespace std;
void main () {
int mp = -1;
double satu = 1,
ulang = 3;
int masuk;
cout <<
"masukan nilai : ";
cin >>
masuk;
for (int ulang2 =
1; ulang2 <= masuk; ++ulang2) {
satu = satu
+ ((1 / ulang) * mp);
mp *= -1;
ulang += 2;
}
cout << satu
<< "\n";
}
Logika:
Melakukan perhitungan dari suku pertama sampai suku ke – n
(jumlah suku yang diminta oleh user).
Mungkin yang paling “mengganggu” pemikiran Anda adalah bagaimana cara untuk
membuat tanda + dan minus berubah – ubah setiap kali, kan? Padahal itu bisa saja diatasi hanya dengan mengalikan -1 dengan -1 sehingga hasilnya bisa menjadi
positif , ya kan? Jika sudah begitu, “urusan” berikutnya menjadi beres J.
Penjelasan kode:
Kode di atas juga cukup jelas jika diamati dengan baik.
Awalnya kita membuat beberapa “buah” variabel:
·
Yang akan menjadi input bagi / dari user, yaitu masuk
·
Yang akan
“menampung” hasil perhitungan, yaitu satu
·
Yang akan menjadi
pembagi dan terus dinaikkan nilainya, yaitu ulang
·
Yang akan “merubah”
tanda dan jenis perhitungan (dari penjumlahan menjadi pengurangan dan
sebaliknya), yaitu mp
Kemudian kita melakukan perulangan dengan menjumlahkan
variabel satu yang bernilai 1
(pada awalnya) dengan hasil dari 1 dibagi dengan variabel ulang dimana nilai awalnya adalah 3, dan
kemudian ditambah 2 untuk setiap perulangan yang dilakukan kemudian dikalikan
dengan variabel mp yang bernilai -1
pada awalnya sehingga menghasilkan perhitungan: 1 – (1/3).Variabel mp kemudian dikalikan dengan -1 untuk menghasilkan nilai
positif sehingga pada perhitungan berikutnya menjadi seperti berikut:
1 – (1/3) + (1/5)
Begitu seterusnya hingga perhitungan mencapai suku ke – n,
dan proses perhitungan pun dilakukan sekali lagi dan berhenti. Hasilnya
kemudian ditunjukkan oleh variabel satu. Jelas sekali, bukan?
Array
Ok, sekarang, masuk ke “permainan” array.
Dalam “permainan” ini, kita akan meminta user untuk memasukkan nomor stambuk
yangterdiri atas 7 angka. Masing - masing angka (dari nomor stambuk) tersebut
akan disimpan dalam sebuah array yang terdapat variabel a. Nilai dari masing –
masing array tersebut akan dikalikan jika nilai tersebut bukan 0 (nol) dan
“disimpan dalam sebuah variabel sebut saja x. Kemudian dibuat variabel lain
sebut saja b yang memiliki 7 array juga. “Isi” variabel b merupakan hasil dari
masing – masing array variabel a ditambah x. Berikut ini kodenya:
#include <iostream>
using namespace std;
void main() {
int a[7], x = 1;
for (int i = 0; i
< 7; ++i) {
cout
<< "nomor " << i + 1 << ": ";
cin >>
a[i];
}
for (int j = 0; j
< 7; ++j) {
if (a[j] ==
0)
continue;
else {
x *=
a[j];
}
}
int b[7];
for (int k = 0; k
< 7; ++k) {
b[k] = a[k]
+ x;
cout
<< b[k] << "\n";
}
}
Logika:
Dari semua array (angka – angka) yang ada (sudah dimasukkan),
kita melakukan “pencarian”. Jika array tersebut bernilai 0 (nol) maka, array
tersebut kita lewati. Jika array tersebut bukan bernilai nol (karena itu tentu
saja bernilai lebih dari nol, karena secara logika, tidak ada nomor stambuk
yang minus, kan?), maka kita kalikan dengan array berikutnya yang juga tidak
bernilai nol. Kemudian setelah itu, kita membuat array lain dari sebuah
variabel yang lain (tentunya) untuk “ditempati” masing – masing oleh hasil dari
masing – masing array variabel yang satunya ditambah dengan hasil perkalian
seluruh nilai tadi.
Penjelasan kode:
Pertama – tama, kita buat sebuah variabel (variabel a) untuk menampung 7 buah array, lalu variabel x untuk menampung hasil perkalian seluruh array variabel a. Nilai awal x adalah 1, dengan asumsi bahwa tidak ada nomor stambuk yang
seluruhnya 0 (nol) (karena klo gitu buat apa dibuatkan nomor stambuk, kan?)
sehingga bisa dikalikan dengan seluruh array variabel a dengan memiliki kemungkinan nilai terkecil
adalah 1. Lakukan perulangan untuk setiap array
variabel a, dengan
“menyisipkan” kondisi agar jika nilai array
tersebut adalah 0 (nol) maka dilewati (continue), dan apabila nilainya bukan nol, maka dikalikan dengan
variabel x. Setelah selesai,
dibuat variabel baru dengan array
yang sama, yaitu 7. Lalu perulangan dilakukan lagi untuk mengisi semua array tersebut dengan hasil dari x
ditambah dengan masing – masing array
variabel a.
Segitiga Siku -
Siku
Gambar segitiga yang akan dibuat adalah
seperti di bawah ini:
*
**
***
****
*****
******
*******
Seperti yang kita lihat, bahwa terdapat
segitiga siku – siku yang dibuat dengan cara membuat simbol “*” mulai dari satu
sampai baris ke – n. Misalnya saja, dengan contoh di atas, user ingin menampilkan segitiga dengan jumlah baris 7, maka
ditampilkan gambar seperti di atas. Begitu seterusnya. Berikut adalah
contoh kodenya:
#include <iostream>
using namespace std;
void main () {
int segi1;
cout <<
"";
cin >>
segi1;
for (int j = 1; j
<= segi1; ++j) {
for (int i =
1; i <= segi1; ++i) {
if (i
<= segi1 - j)
cout
<< " ";
else
cout
<< "*";
}
cout
<< "\n";
}
}
Logika:
Bila diamati baik – baik, akan diketahui bahwa, misalnya,
jika ada 7 baris yang diminta, maka ada 6 buah spasi yang dibuat lalu kemudian
dicetak tanda asterisk “*”, dan pada
baris berikutnya ada 5 buah spasi lalu dicetak dua buah tanda asterisk. Lalu kemudian pada baris berikutnya ada 4
buah spasi, pada baris berikutnya lagi ada 3 buah spasi, dst. Dapat disimpulkan
bahwa jumlah spasi yang dibuat pada baris pertama adalah:
Total baris yang diinginkan – 1
Lalu kemudian pada baris kedua adalah:
Total baris yang diinginkan – 2
Begitu seterusnya.
Dengan demikian diketahui bahwa untuk mecetak spasi
menggunakan rumus:
Total baris yang diinginkan – baris yang akan dicetak
Jadi, misalnya baris yang sedang “dikerjakan” adalah baris
pertama maka, rumusnya menjadi: total baris yang diinginkan – 1, begitu juga
dengan baris kedua menjadi: total baris yang diinginkan – 2, dst. Jika sudah
“melewati” keadaan tersebut, dicetak “*”.
Penjelasan kode:
Pada kode di atas, pertama – tama kita membuat sebuah
variabel / identifier dengan nama segi1. Dimana segi1, merupakan input dari user
untuk menentukan berapa banyak baris segitiga yang akan dicetak. Setelah itu,
dilakukan perulangan untuk mencetak banyaknya baris, di sini kita memakai
variabel j. Untuk mencetak
spasi dan tanda “*” sendiri digunakan variabel i, dengan kondisi:
· Jika i lebih kecil atau sama dengan segi1 - j, dicetak spasi
Ini karena syarat yang telah dikemukakan sebelumnya, jumlah
spasi yang dicetak per baris adalah hasil dari segi1 – j, dimana j adalah baris yang aktual (current) pada saat itu.
·
Jika i lebih besar dari segi1, maka dicetak tanda “*”.
Sebenarnya, jika Anda bisa mengamati dengan cukup seksama,
maka Anda akan menemukan bahwa kita selalu mencetak dengan jumlah yang sama.
Misalnya jumlah baris yang diinginkan adalah 7, maka sebenarnya dalam setiap
baris dari baris pertama sampai baris 7, kita selalu mencetak sebanyak 7 kali
pada setiap barisnya. Hanya saja ada “variasi”pada setiap barisnya, yaitu jika
dengan dikuranginya segi1 dengan j, maka denga
sendirinya jumlah “*” yang tercetak akan semakin banyak dan pada akhirnya sama
dengan jumlah baris yang diinginkan. Jadi, cobalah bayangkan bahwa yang kita
cetak adalah sebuah persegi / persegi panjang dengan gambaran seperti yang
telah disebutkan di atas (bisa, kan? J).
Hal ini terus berlanjut pada setiap baris dan pada ahirnya
berhenti pada kondisi dimana j lebih besar dari segi1. Hasilnya dapat Anda lihat pada screen shot berikut:
Baris Ganda
Kali ini Anda diminta untuk membuat /
menampilkan berapa banyak baris yang diminta oleh user tapi dengan menggandakan setiap baris yang dicetak di layar.
Misalnya, jumlah baris yang diminta adalah 5, maka yang tercetak adalah:
11
2222
333333
44444444
5555555555
Maka kode yang saya buat adalah sebagai
berikut:
#include <iostream>
using namespace std;
void main () {
int in;
cout <<
"banyaknya baris: ";
cin >> in;
for (int i = 1; i
<= in; ++ i) {
for (int j =
1; j <= i * 2; ++j) {
cout
<< i;
}
cout
<< "\n";
}
}
Logika:
Logika yang digunakan di sini cukup mirip dengan cara kita
mencetak segitiga siku –siku ke layar. Mungkin bisa dibilang ini masih ada
“hubungan keluarga” dengan yang tadi J. Disini kita melakukan perulangan untuk mencetak baris yang
diminta oleh user. Dalam melakukan
perulangan tersebut, kita menampilkan baris yang dicetak pada saat itu.
Misalnya jika baris yang sedang dicetak pada saat itu adalah baris kedua, maka
yang ditampilkan adalah angka 2. Begitu seterusnya. Perhatikan bahwa angka –
angka yang dicetak memiliki sebuah pola. Pada setiap baris yang sedang dicetak
pola dari angka –angkanya adalah: baris
yang sedang dicetak dikali 2.
Misalnya pada baris pertama, jumlah angka / banyaknya angka yang dicetak adalah 1 X 2 = 2 kali di
cetak. Pada baris kedua, banyaknya baris yang di cetak adalah 2 X 2, dst. Hal
ini berlanjut sampai baris yang diinginkan oleh user sudah tercetak.
Penjelasan kode:
Pada kode di atas, dibuat variabel untuk menampung berapa
banyak baris yang diinginkan oleh user
(in), just like usual J. Berdasarkan input dari user tersebut, kita membuat perulangan
untuk mencetak baris – baris yang diinginkan user. Dalam perulangan ini, kita “menyisipkan” sebuah perulangan
lagi untuk mencetak angka ke layar (dengan menggunakan variabel j). Perulangan ini dilakukan dengan kondisi j lebih kecil atau sama dengan i dikali 2. Dimana, i adalah baris yang sedang dikerjakan dan j adalah berapa banyak perulangan yang
dilakukan dalam kondisi j lebih kecil atau
sama dengan i.
Berikut ini screen shot-nya:
Menyebut Angka
Terbalik
Kita mulai memasuki salah satu bagian
favorit saya yaitu “mengkonversi” bilangan menjadi kalimat / kata – kata J. Kita memasuki dulu bagian yang mudahnya,
menyebut angka dengan terbalik. Kali ini, kita meminta user untuk mengurangi
bilangan apa pun (yang lebih kecil dari 10.000) dengan 10.000. Misalnya,
user memasukkan angka 3456, maka 10.000 – 3.456 tentu saja hasilnya = 6.544,
tapi kita mengkonversinya dengan menjadikannya sebagai kalimat tapi dibaca
terbalik. Jadi, tampilannya adalah: empat empat lima enam J.
Kodenya adalah:
#include <iostream>
using namespace std;
void sntce (int n) {
switch (n) {
case 1: cout
<< "satu "; break;
case 2: cout
<< "dua "; break;
case 3: cout
<< "tiga "; break;
case 4: cout
<< "empat "; break;
case 5: cout
<< "lima "; break;
case 6: cout
<< "enam "; break;
case 7: cout
<< "tujuh "; break;
case 8: cout
<< "delapan "; break;
case 9: cout
<< "sembilan "; break;
case 0: cout
<< "nol "; break;
default: break;
}
}
void reverse (int n) {
int zero, mod;
zero = n / 10;
mod = n % 10;
if (zero == 0
&& mod == 0)
exit;
else {
sntce (mod);
reverse
(zero);
}
}
void main () {
int in, reduce;
const int stay =
10000;
do {
cout
<< "";
cin >>
in;
} while (in >
10000 || in < 1);
reduce = stay -
in;
reverse (reduce);
cout <<
"\n";
}
Logika:
Dari input yang dimasukan oleh user, dikurangi dengan 10.000 lalu hasilnya mulai dari angka paling
terakhir sampai dengan angka pertama dikonversi ke dalam bentuk angka. Cara
untuk “mengambil” angka terakhir adalah dengan mengambil modulo / sisa bagi dari hasil pengurangan tersebut dibagi 10.
Misalnya, hasilnya 6544 dibagi 10 tentu saja sisanya adalah 4. Kemudian hasil
bulat dari 6544 dibagi 10 yang adalah 654 akan di bagi lagi dengan 10 dan akan
menghasilkan angka 4. Dan hasil bulat dari 654 dibagi 10 yang adalah 65 kembali
dibagi dengan 10 dan sisanya adalah 5. Kemudian yang terakhir, karena nilai 6
yang disimpan kemudian dibagi 10, dan sisanya pasti 6, maka 6 diambil.
Penjelasan kode:
Pada bagian utama program, kita membuat beberapa variabel: reduce, in, dan stay. Variabel reduce sendiri berguna untuk menampung hasil pengurangan dari stay, yang telah kita beri nilai konstan dari
awal yaitu 10.000. Tapi, kita mau mencegah agar user tidak memasukkan angka
yang “tidak lazim” misalnya angka 0 atau 10.001 dan seterusnya. Maka, kita memakai fungsi do...while (ini sebenarnya “favorit” saya, karena saya
ingin selalu mencegah input yang
tidak normal) dengan “aturan” bahwa tampilan tersebut (“”) akan selalu terulang
bila user memasukkan angka yang lebih
besar dari 10.000 atau lebih kecil dari 1. Kita lalu memasukkan reduce ke reverse, itulah akhir dari program utama. Lalu, seperti yang kita
lihat di atas, ada 2 fungsi yang kita buat sejak awal: sntce dan reverse. sntce berfungsi untuk mengkonversi angka menjadi sebuah kata dengan fungsi switch, yang saya rasa sudah cukup jelas, bahwa
jika inputnya (dalam hal ini adalah
sisa bagi dari 10.000 dikurangi input
dari user kemudian dibagi 10) adalah
1, maka yang ditampilkan adalah kata “satu”, bila 2, maka ditampilkan adalah
“dua”, dst. Sedangkan reverse untuk menghitung hasil pengurangan dari 10.000 dikurangi dengan input dari user (in). Di sini kita
memakai dua kondisi, yaitu jika hasil bulat dari n (reduce) dibagi 10 sama dengan 0 dan juga sisa bagi (mod) sama dengan 0 (nol), dan kondisi di luat itu (tentu saja
ini berarti bahwa masih ada bilangan yang harus di bagi 10 atau bisa saja masih
ada sisa bagi yang harus di masukkan ke sntce). Jika yag terjadi adalah kondisi kedua, kita “melempar”
variabel mod ke sntce (udah tau kan fungsinya?) lalu memangil
kembali reverse dengan menggunakan
zero sampai akhirnya
tidak ada lagi yang bisa dibagi dan tidak ada lagi sisa pembagian. Berikut
tampilannya:
Menyebut Angka
Ok, akhirnya sampai di sini juga. Program
berikut adalah program untuk menyebut angka dalam bentuk kalimat mulai dari 1
sampai jutaan. Misalnya angka 123 menjadi “seratus dua puluh tiga”, dst.
Berikut ini salah satu contoh kodenya:
#include <iostream>
using namespace std;
void first (int n) {
switch (n) {
case 1: cout
<< "satu "; break;
case 2: cout
<< "dua "; break;
case 3: cout
<< "tiga "; break;
case 4: cout
<< "empat "; break;
case 5: cout
<< "lima "; break;
case 6: cout
<< "enam "; break;
case 7: cout
<< "tujuh "; break;
case 8: cout
<< "delapan "; break;
case 9: cout
<< "sembilan "; break;
case 10: cout
<< "sepuluh "; break;
case 11: cout
<< "sebelas "; break;
default: break;
}
}
void second (int n) {
int bul, sisa;
bul = n / 10;
sisa = n % 10;
if (bul == 0)
first
(sisa);
else if (bul == 1)
{
if (sisa
<= 1)
first
(n);
else {
first
(sisa);
cout
<< "belas ";
}
}
else {
first (bul);
cout
<< "puluh ";
first
(sisa);
}
}
void third (int n) {
int bul, sisa;
bul = n / 100;
sisa = n % 100;
if (bul == 0)
second
(sisa);
else if (bul == 1)
{
if (sisa ==
0)
cout
<< "seratus ";
else {
cout
<< "seratus ";
second
(sisa);
}
}
else {
first (bul);
cout
<< "ratus ";
second
(sisa);
}
}
void fourth (int n) {
int bul, sisa;
bul = n / 1000;
sisa = n % 1000;
if (bul == 0)
third
(sisa);
else if (bul == 1)
{
if (sisa ==
0)
cout
<< "seribu ";
else {
cout
<< "seribu ";
third
(sisa);
}
}
else {
third (bul);
cout
<< "ribu ";
third
(sisa);
}
}
void fifth (int n) {
int bul, sisa;
bul = n / 1000000;
sisa = n %
1000000;
if (bul == 0)
fourth
(sisa);
else if (bul == 1)
{
if (sisa ==
0)
cout
<< "satu juta ";
else {
cout
<< "satu juta ";
fourth (sisa);
}
}
else {
third (bul);
cout
<< "juta ";
fourth
(sisa);
}
}
void main () {
int n = 1;
while (n == 1) {
int num1;
do {
cout
<< "";
cin
>> num1;
} while
(num1 < 1);
fifth
(num1);
cout
<< "\n";
}
}
Logika:
Kita mau mengetes apakah angka yang dimasukkan adalah jutaan,
ribuan, ratusan, puluhan, atau satuan. Karena pada dasarnya hanya itu saja
jenis – jenis angka yang ada (tidak termasuk milyaran dan triliunan dan yang
lebih besar, karena tipe int tidak dapat
menjangkau bilangan – bilangan tersebut).
Pada waktu pertama kali kita “mengetes” bilangan tersebut,
kita mencoba menguji:
1.
Apakah bilangan itu
adalah jutaan?
Pertama – tama, mungkin ada yang bertanya mengapa bagian ini
dimasuki terlebih dahulu? Secara logisnya, dari cara pengucapannya, dalam
mengucapkan nama bilangan, tentu saja yang akan diucapan adalah bilangan
terbesarnya lalu berurut sampai yang terkecil. Misalnya, 1.234 dibaca seribu
dua ratus tiga puluh empat. Maka, dari besarnya angka yang dapat dimasukkan ke
dalam program, jutaan merupakan “porsi” yang terbesar. Maka yang paling pertama
diuji adalah “apakah bilangan itu adalah jutaan?”.
·
jika tidak, maka
bilangan itu dites apakah bilangan itu adalah ribuan.
·
jika ya, maka
“bagian jutaan” bilangan itu diterjemahkan ke dalam kata – kata lalu sisanya
(ratusan ribu ke bawah) dicek lagi pada fungsi untuk bilangan ribuan.
2.
Apakah bilangan itu
ribuan?
·
Jika tidak, maka
bilangan itu akan dites apakah bilangan itu adalah ratusan.
·
Jika ya, maka
“bagian ribuan” dari bilangan itu diterjemahkan lalu sisanya dimasukkan di
bagian ratusan.
3.
Apakah bilangan itu
ratusan?
·
Jika tidak, maka
bilangan itu akan dites apakah bilangan itu adalah puluhan.
·
Jika ya, maka
“bagian ratusan” dari bilangan itu diterjemahkan lalu sisanya dimasukkan ke
dalam fungsi puluhan.
4.
Apakah bilangan itu
puluhan?
·
Jika tidak, maka
bilangan itu akan dimasukkan ke dalam fungsi terakhir, fungsi satuan.
·
Jika ya, maka “bagian puluhan” dari bilangan itu
akan diterjemahkan dan kemudian sisanya dimasukkan ke dalam fungsi satuan.
Penjelasan kode:
Pertama – tama, perlu kita perhatikan bahwa sudah “disiapkan”
sebuah perulangan di sana (while). Itu sebenarnya “kerjaaan” saya, yang membuatnya supaya
programnya bisa diulang terus menerus (silahkan edit sendiri kalau mau merubahnya) J. Pada fungsi utama, seperti yang kita lihat, kita ingin
supaya masukan kita mempunyai nilai paling tidak sama dengan satu. Lalu setelah
itu, kita memasukkan input tersebut pada bagian jutaan. Caranya mirip dengan
bagaimana kita menerjemahkan angka – angka ke dalam kata – kata. Prosesnya
dapat kita lihat pada kondisi – kondisi pada fungsi tersebut.
·
Jika hasil bulat
dari pembagian n dengan 1.000.000
adalah 0 (nol), maka bisa dipastikan bahwa n bukanlah bilangan jutaan.
·
Jika hasil bulat
dari pembagian n dengan 1.000.000
adalah 1 dan sisanya adalah 0 (nol), maka n pastilah 1.000.000 (satu juta).
·
Jika hasil bulat
dari pembagian n dengan 1.000.000
lebih besar dari 1, maka bilangan tersebut pastilah lebih atau sama dengan
2.000.000. Maka hasil bulat pembagian tersebut, dimasukkan ke dalam third (karena nilai maksimal dari bilangan jutaan
adalah ratusan juta), lalu di cetak kata “juta ”, dan kemudian sisanya
dimasukkan ke dalam fourth (karena ada kemungkinan sisanya bernilai ribuan)
Pada fungsi –
fungsi yang lainnya juga dibuat dengan cara seperti itu hingga akhirnya pada
bagian satuan dari bilangan tersebut. Hanya saja, jika kita perhatikan pada
fungsi second, ada sebuah
kondisi dimana jika hasil bulat dari pembagian adalah 1, dan jika sisanya lebih
besar dari 1, maka sisanya akan dimasukkan ke dalam first dan selanjutnya di
cetak kata “belas ”. Jadi misalnya, angkanya adalah 19, sisanya tentu saja
adalah 9. Angka 9 di first, akan menghasilkan kata “sembilan “ di layar. Lalu ditambah dengan kata
“belas “, maka hasilnya adalah “sembilan belas “. Jadi, kita tidak usah membuat
case untuk “belas –
belas” yang lain selain 11 (sebelas), ‘tul
ga? J.
Penutup
Phew, akhirnya selesai juga tulisan ini
(tepatnya beberapa menit lagi sebelum Van Helsing beraksi alias tengah malam
:D). Ngga tau, berapa lama waktu saya
habiskan di depan kompie untuk
menyempurnakan tulisan ini. Lagi pula, karena ini merupakan tulisan pertama
saya, maka pasti tidak luput dari kesalahan – kesalahan (sebenarnya tulisan ke
berapa pun pasti ada kesalahan karena manusia tidak ada yang sempurna, ‘tul ga?). Oleh karena itu, saran dan
kritik sangat diharapkan untuk menjadi masukan yang berguna dikemudian hari.
Referensi
·
Drs. Suarga, M.Sc.,
M. Math., Ph.D., Algoritma Pemrograman,
Penerbit ANDI, 2006
·
Robert Setiadi, Algoritma Itu Mudah, PT. Prima
Infosarana Media, 2008
·
http://www.lautanindonesia.com
(beserta para penghuninya J. Thanks atas kritikan –kritikan dan masukan -masukannya).
·
Benda kecil yang telah
dibuatkan dan dititipkan Tuhan pada saya untuk dijaga yang bernama otak J.


0 komentar:
Posting Komentar